Musim kemarau merupakan siklus tahunan yang pasti melanda Indonesia. Di tengah kondisi tersebut, ketersediaan air bersih menjadi tantangan serius bagi masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di wilayah dengan akses air yang terbatas. Ketika sumber air semakin sulit diperoleh, kebutuhan dasar yang seharusnya mudah diakses justru menjadi beban tersendiri bagi keluarga.

Kondisi inilah yang dirasakan masyarakat Wareng, Gunungkidul. Wilayah yang terdiri dari 4 RT ini dihuni oleh 97 kepala keluarga atau 388 jiwa. Ketika sumber air sulit diakses, masyarakat harus mendatangkan air menggunakan tangki. Rata-rata, kebutuhan mereka mencapai 4-5 tangki dengan biaya sekitar Rp180.000 per tangki. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, pengeluaran tersebut tentu bukan angka kecil. Ada kebutuhan rumah tangga lain yang harus dikorbankan demi memastikan air tetap tersedia, bahkan harus rela menjual ternak.
Berangkat dari kebutuhan itu, Bering Tirta hadir membawa lebih dari sekadar sumur. Program ini menghadirkan sumber air bersih yang berkelanjutan sekaligus memastikan air dapat mengalir hingga ke rumah-rumah warga. Sebab, menghadirkan sumber air saja belum cukup. Yang lebih penting adalah memastikan manfaatnya benar-benar sampai kepada masyarakat dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bering Tirta Wareng menjadi sumur ke-9 dalam ikhtiar menghadirkan akses air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan. Air yang mengalir dari sumber ini diharapkan bukan hanya menghapus dahaga, tetapi juga mengurangi beban keluarga, memberikan rasa aman menghadapi musim kemarau, dan menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi warga Wareng. Ketika air tak lagi harus dibeli dengan harga mahal, ada ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Keberlanjutan juga menjadi bagian penting dari Bering Tirta. Kelompok pengelola air mendapatkan pendampingan manajemen keuangan secara profesional agar sumber air dapat dikelola dengan baik, amanah, dan berkelanjutan. Harapannya, pengelolaan yang sehat tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan air, tetapi dapat menjadi awal lahirnya program-program kebaikan lainnya yang terus memberi manfaat bagi masyarakat.

Peresmian dan penyerahan sumur Bering Tirta Wareng dilaksanakan pada Selasa, 1 September 2026, dengan dihadiri oleh Pengawas dan Pengurus BMT Beringharjo, Forkopimkap (Forum Komunikasi Pimpinan Kapanewon) Gedangsari, perangkat desa, perwakilan donatur, serta warga masyarakat. Momen ini menjadi penanda dimulainya aliran manfaat yang diharapkan terus menghidupi dan menguatkan masyarakat Wareng, terutama ketika kemarau kembali datang. Tidak hanya sumur, bantuan berupa 2.000 benih lele juga ikut diserahkan untuk menunjang kegiatan produktif warga. “Saya yakin bahwa pengelola air di Dusun Wareng ini dapat mengemban amanah dengan baik sehingga nantinya dapat melahirkan program kebaikan yang lainnya,” kata Ibu Mursida Rambe dalam sambutannya.
Bering Tirta Wareng terwujud melalui kolaborasi dan dukungan dari Wakaf Salman, Perwatusi (Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia), Paragon, MT Bhakti Khoirunnisa, serta para donatur lainnya. Sinergi tersebut menjadi bukti bahwa kebaikan dapat tumbuh melalui kolaborasi. Semoga Bering Tirta Wareng tidak hanya menghadirkan air yang mengalir ke rumah-rumah warga, tetapi juga menjadi sumber kebermanfaatan yang terus menerus dan mengalirkan keberkahan untuk semua pihak.
